Oleh: M. Ikhsan Rivaldi, Ketua HMI BADKO Sumatera Bagian Selatan
Detiksumatera.com
Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momentum yang lahir dari kesadaran kolektif bahwa perubahan hanya dapat diwujudkan melalui persatuan, perjuangan, dan keberanian menghadapi tantangan zaman.
Namun, Hari Kebangkitan Nasional tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi ruang refleksi untuk bertanya: bagaimana keadaan Indonesia hari ini? dan apakah cita-cita kebangkitan yang diwariskan para pendahulu benar-benar sedang kita jalankan?
Di tengah peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026, Indonesia sedang menghadapi situasi yang tidak sederhana. Berbagai indikator menunjukkan bahwa bangsa ini berada dalam fase yang penuh tantangan, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun kepercayaan publik.
Secara makro, perekonomian Indonesia memang masih menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang tahun 2025, ekonomi nasional tumbuh sekitar 5,11 persen. Angka tersebut sering dipandang sebagai sinyal optimisme di tengah perlambatan ekonomi global. Namun pertumbuhan itu belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar yang dirasakan masyarakat. Sebab di balik angka pertumbuhan tersebut, ketimpangan dan tekanan ekonomi masih nyata dirasakan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk miskin Indonesia per September 2025 masih mencapai 23,36 juta jiwa atau sekitar 8,25 persen dari total penduduk. Angka ini menunjukkan bahwa jutaan masyarakat Indonesia masih hidup dalam kondisi rentan dan belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan.
Di sisi lain, persoalan ketenagakerjaan juga belum menemukan titik terang. Jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2025 tercatat sekitar 7,46 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,85 persen. Angka ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang memadai.
Kondisi tersebut semakin terasa bagi generasi muda. Setiap tahun ribuan lulusan memasuki dunia kerja dengan harapan besar, tetapi tidak sedikit yang harus berhadapan dengan keterbatasan kesempatan, tingginya persaingan, hingga ketidakpastian masa depan.
Persoalan lain yang turut memperberat keadaan adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Pada Mei 2026, nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.670–Rp17.720 per dolar Amerika Serikat, menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah nilai tukar Indonesia. Pelemahan ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, kenaikan harga energi, tekanan pasar keuangan internasional, hingga dinamika geopolitik dunia.
Namun bagi masyarakat, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi. Ketika rupiah melemah, dampaknya menjalar langsung pada kehidupan sehari-hari. Harga barang impor meningkat, biaya produksi naik, tekanan inflasi membesar, daya beli masyarakat tergerus, dan beban ekonomi rumah tangga semakin berat.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga menghadapi persoalan sosial yang tidak kalah penting. Ketimpangan akses pendidikan masih terjadi. Biaya pendidikan terus menjadi beban bagi sebagian keluarga. Di banyak daerah, kualitas pendidikan dan fasilitas belajar belum sepenuhnya merata. Sementara itu, perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia yang jauh lebih adaptif.
Belum lagi tantangan terhadap kualitas demokrasi dan kepercayaan publik yang terus diuji. Polarisasi sosial, penyebaran disinformasi, serta berbagai persoalan tata kelola menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Keadaan ini membawa kita pada satu kesimpulan: Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja.
Namun kalimat tersebut bukan untuk menumbuhkan pesimisme. Justru sebaliknya, ini adalah panggilan untuk membangkitkan kesadaran bersama. Sebab kebangkitan nasional tidak lahir ketika keadaan sedang nyaman. Kebangkitan lahir ketika bangsa berani mengakui persoalan, mengevaluasi arah perjalanan, dan bersama-sama mencari jalan keluar.
Sejarah telah membuktikan hal itu. Tahun 1908, para pendahulu bangsa membangun kesadaran kebangsaan bukan dalam situasi ideal. Mereka bergerak di tengah keterbatasan, ketidakadilan, dan tekanan zaman. Tetapi dari kondisi itulah lahir semangat persatuan dan kebangkitan.
Hari ini, tantangan kita berbeda, tetapi semangatnya harus tetap sama. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton. Mahasiswa, pemuda, akademisi, dan masyarakat sipil harus kembali mengambil peran sebagai penjaga nilai, pengawal demokrasi, serta penggerak perubahan sosial.
Tema Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” menjadi pengingat bahwa menjaga masa depan bangsa tidak cukup dengan slogan.
Menjaga tunas bangsa berarti memastikan generasi muda memperoleh pendidikan yang layak, akses pekerjaan yang adil, ruang demokrasi yang sehat, dan kesempatan untuk tumbuh secara bermartabat.
Kebangkitan nasional hari ini bukan hanya tentang mengenang sejarah.
Kebangkitan nasional adalah keberanian untuk memperbaiki ketimpangan.
Keberanian untuk memperkuat ekonomi rakyat.
Keberanian untuk menjaga demokrasi.
Dan keberanian untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar berpihak pada rakyat.
Indonesia mungkin sedang tidak baik-baik saja.
Namun sejarah bangsa ini selalu membuktikan bahwa harapan tidak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian untuk bangkit bersama.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026.