Detiksumatera.com
Lahat – PLTU Banjasari bekerjasama dengan kelompok pengrajin Batamerah SP 6 Kota Lahat, berhasil mengolah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) menjadi bernilai ekonomi. Limbah dari hasil pembakaran pembangkit listrik tersebut, dijadikan bahan campuran pembuatan batubata berkualitas. Sehingga selain bermanfaat bagi lingkungan juga memiliki, mampu menghasilkan cuan pagi masyarakat.
Executive Vice President PLTU Banjarsari Putut Dwidjoseno melalui Manager Umum Faza Ikhwana menjelaskan, kegiatan tersebut adalah salah satu bagian dari program corporate sosial responsibily (CSR) di bidang Lingkungan. Yakni program FABA untuk masyarakat dan karangtaruna atau disingkat Bakarat, yang fokus pada pemanfaatan limba FABA.
Program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung prinsip ekonomi sirkular (circular economy), yaitu mengubah residu hasil proses pembangkitan listrik menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. FABA yang dihasilkan PLTU Banjarsari dimanfaatkan sebagai salah satu bahan campuran utama dalam produksi bata, sehingga mampu mengurangi penggunaan bahan baku alam sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi kelompok masyarakat binaan.
Pemanfaatan FABA tersebut tidak hanya membantu mengurangi timbulan limbah, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Bata yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, kuat, serta memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur dan perumahan di wilayah sekitar. Selain memberikan manfaat ekonomi, penggunaan FABA sebagai bahan baku bata juga berkontribusi pada pengurangan penggunaan tanah liat sebagai bahan baku konvensional. Dengan demikian, program ini turut mendukung upaya konservasi sumber daya alam dan pengurangan jejak lingkungan dari kegiatan konstruksi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa FABA bukan sekadar sisa proses pembakaran batubara, tetapi memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Melalui program ini, kami berupaya menciptakan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Putut Dwidjoseno, saat penandatanganan MoU dengan Kelompok pengrajin Batamerah SP 6, Selasa (2/6/2026).
Lutvia Prihatiningtyas Ketua Kelompok Batamerah SP 6 Kabupaten Lahat mengaku, sangat terbantu dengan digunakannnya Faba sebagai bahan baku pembuatan batubata. Sebab mereka bisa menghemat secara ekonomi dari sisi biaya, seperti penggunaan tanah sebagai bahan utama. Selain itu batubata yang dihasilkan juga kuat, dan memiliki kualitas yang baik. Kelompok juga dibantu mesin alat cetak batubata, yang sangat berpengaruh pada biaya produksi. Karena selama ini mereka harus sewa alat, itu pun antri cukup lama.
“Uji coba sudah sekitar satu tahun, alhamdulilah sudah dapat formula yang tepat. Kami juga dibantu alat cetak, dan sejumlah pelatihan agar lebih propesional,” imbuh LUtvia Prihatingingtyas.